Selasa, 13 Agustus 2013

Sepeninggal ayah (Cerpen)

SEPENINGGAL AYAH . . .
Perempuan itu duduk dengan menggendong anaknya seraya menyuapinya makan. Aku berfikir sejenak dibawah pohon rindang, menengok di sekelilingku desa yang indah nan sejuk membuat otakku benar-benar segar. Alangkah besar nikmat yang Kau berikan padaku ini Ya Allah. Sungguh indah pemandangan perkebunan teh membentang sekitar 500 m dari rumahku. Tak lama terlihat adikku berlarian bersama teman-temannya bermain di perkebunan teh itu. Wajah ceria nan gembira terpancar dari wajah mereka. Tapi tak lama kemudian ibuku datang menghampiriku.
“ Nak, lihat adikmu tampak ceria bermain dengan teman-temannya. Ibu tak ingin melihatmu dan adikmu sedih. Ibu juga akan sangat sedih jika ibu harus pergi secepat ini.” Ku dengar ibu menangis tersedu-sedu. “Tapi meskipun ibu akan tiada, ibu memberikan kepercayaan padamu untuk menjaga adikmu nak, ibu pergi demi sekolahmu dan sekolah adikmu supaya kalian bisa jadi orang yang sukses” Ibu tersenyum melihatku sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku hanya terdiam dan tersenyum melihat ibu. Aku tahu ibu akan bekerja ke luar negeri untuk menjadi TKW supaya bisa membiayai aku dan adikku sekolah. Seharusnya ini adalah tugas seorang ayah, tapi ayahku pergi begitu saja saat adikku berumur 1 tahun dan saat itu aku berumur 4 tahun. Aku sangat membenci ayah. Tega sekali ayah meninggalkan ibu sendirian untuk mengurusi aku dan adikku waktu kita masih kecil. Tapi aku berniat akan membahagiakan ibu dengan menunjukkan prestasi yang aku raih di sekolah.
Kemudian ibu pergi kembali ke rumah untuk memasak. Aku masih terdiam dan merenungi nasibku sekarang. Suatu hari nanti aku yakin aku bisa membuat ibuku bangga padaku dan bisa membantu ibu membiayai sekolah adikku serta aku yakin aku bisa menjadi orang yang sukses. Aku tahu aku adalah anak orang yang tidak mampu. Tapi aku yakin dengan keinginan yang tinggi semua yang tidak mungkin pun akan terjadi. Tanp ayahpun, aku bisa.
“ Kak Rani antar Sari ke pasar yuk, tadi ibu menyuruh Sari untuk membeli sayuran dan meminta Kak Rani untuk mengantarku” Sari datang menyadarkanku dari lamunanku.
Aku dan Saripun pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Setiap pagi kami pergi ke pasar untuk membantu ibu membeli bahan-bahan karedok untuk dijual. Kamipun mendatangi penjual langganan kami dan membeli beberapa sayuran. Setelah membelinya, aku dan Sari sengaja tak melewati jalan biasa yang sering dilewat kami saat pulang dari pasar tapi melewati jalan pintas menyusupi jalan –jalan kecil di sekitar rumah penduduk. Akhirnya aku dan Saripun sampai ke rumah dan memberikan belanjaan pada ibu serta membantunya menyiapkan daganngan di warung kecil di depan rumah kami.
“ Ibu mungkin seminggu lagi disini setelah itu ibu akan berangkat ke Hongkong, ibu harap warung ini tak tutup saat ibu pergi.” Ibu menoleh padaku sambil memereskan sayuran.
“ Apakah maksud ibu aku tetap harus membuka dan menjual karedok saat ibu pergi ?” ujarku disusul dengan anggukan ibu sambil tersenyum padaku.
“ Baiklah bu aku akan membukanya setiap hari, sebenarnya aku tidak rela ibu perg aku takut majikan ibu nanti galak dan banyak kejadian tragis yang ada di tv tapi yasudahlah aku akan merelakan ibu pergi. Ini semua gara-gara bapak bu, kalau bapak ada disini hidup kita tidak akan menderita seperti ini.” Tak aku sadari air mataku jatuh perlahan dari bola mataku.
Ibu tersenyum dan mengelus kepalaku sambil menatapku seakan meyakinkanku bahwa kita tidak hidup menderita tapi hidup bahagia. Akupun membalas senyumannya. Akupun membuka warungnya dan setelah itu aku izin bermain keluar.
Aku menemani Sari bermain di halaman di depan rumahku. Aku melihat warungku ternyata sangat ramai banyak sekali pembeli. Memang karedok ibuku banyak diminati oleh warga didesa ini. Alhamdulillah uang hasil penjualanpun cukup untuk kebutuhan sehari-hari tapi tidak cukup untuk membiayai sekolahku dan adikku. Kasihan ibu membanting tulang sendirian, aku hanya bisa membantu ibu belanja sayur dan membantu ibu berjualan. Andai ada ayah disini semuanya akan berbeda dari sekarang meskipun aku membencinya tapi aku sangat merindukannya, aku rindu kasih sayang ayah. Tak kusadari air mataku bercucuran, aku hanya bisa berdoa aku bisa bertemu ayah dan tinggal bersama disini.
5 haripun berlalu, ibuku sangat sibuk hari ini menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk ke Hongkong besok pagi. Akupun membantu membereskan baju-baju ibu serta membereskan rumah. Pagi ini sungguh sangat sibuk. Saripun membantu ibu memberekan baju dan barang yang akan dibawa. Saat aku menyapu halaman rumah, tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiriku. Turun seorang laki-laki dengan memakai baju kantoran dengan sangat rapi. Laki-laki itupun menghampiriku, terdiam sejenak mengeluarkan air mata lalu memelukku. Aku sangat kebingungan sebenarnya siapa bapak ini ? Karena mendengar suara mobil, ibu dan adikku keluar rumah. Sesampainya di pintu …
Braaaaaaaaaaaaak ……
Keranjang sayuran yang dibawa ibuku terjatuh ke lantai. Aku dan lelaki itupun terkejut dan melihat ibuku. Ibuku menangis dan kaget melihat sesosok lelaki yang tadi memelukku. Merekapun saling bertatapan sambil menangis didepan aku dan adikku. Lalu lelaki itupun menghampiri ibuku.
“ Maafkan aku Laras, aku sudah meninggalkanmu bertahun-tahun, aku sungguh mencari uang dan akhirnya aku menjadi seperti ini. Aku masih setia padamu dan sekarang ikutlah denganku ke rumahku. Kita bisa tinggal disana menjadi keluarga bahagia bersama Rani dan Sari. Terima kasih untuk menjaga anak-anakku hingga menjadi gadis yang cantik seperti ini. Aku sangat rindu padamu Laras” ujar Lelaki itu sambil memegang tangan ibuku lalu memeluknya dengan erat.
Aku terdiam melihat mereka. Apakah dia ayahku ? apakah dia yang sudah meninggalkanku dan ibuku selama ini hidup sendiri menderita tanpa ada kabar sedikitpun ?
“ Apakah kau Rani ? kau sudah sangat cantik nak. Aku ayahmu. Ayah sangat meridukanmu nak.” Lelaki itu melihatku dengan penuh senyuman.
“ Kau ayahku ? ayah yang selama ini meninggalkanku, adikku, dan ibuku hidup sendiri menderita seperti ini ? Ayah yang selama ini pergi bertahun-tahun tanpa ada kabar sedikitpun ? asal ayah tahu, ayah sudah buat hidup kami menderita. Kasihan ibu mencari uang sendiri, harusnya ini adalah tugas seorang ayah ? Ayah kemana ? tidak ada ! aku benci ayah !” aku berlari menuju kamarku sambil menangis.
Saat aku menangis di dalam kamar tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku, akupun membuka pintunya meskipun aku masih sangat terpukul dengan kedatangan ayahku.
“ Rani, kau harus mengerti nak. Kamu sudah dewasa ibu harap kamu bisa memaafkan ayahmu. Ibu yang sudah ditinggal dengan adanya kalian saja ibu sudah memaafkannya, apalagi kamu nak sebagai anaknya. Apa kamu tidak merindukan ayahmu ?” ujar ibu sambil mengelus kepalaku.
“ Rani rindu sekali sama ayah bu, tapi Rani masih tidak terima ayah datang dengan tiba-tiba dan sudah bertahun-tahun meninggalkan kita sendiri menderita bu”
“ Maafkan ayah nak, bagaimanapun juga kalian adalah keluarga ayah meskipun selama bertahun-tahun ayah meninggalkan kalian, ayah pasti kembali. Ayah hanya ingin kembali ke rumah dengan tidak membawa bungkusan kosong tapi sudah mencapai kesuksesan baru ayah akan kembali kesini. Itu janji ayah dulu nak. Maafkan ayah ya” tiba-tiba ayah datang menggendong Sari dan langsung menghampiriku dan ibu.
Akupun memeluk ayah dengan erat. Aku tahu sekarang dia adalah ayah yang baik bukan seorang ayah yang tega meninggalkan keluarganya dengan tanpa sebab. Ingin ku kakatakan padanya bahwa Aku Rindu Ayah sekalipun ayah sudah lama pergi meninggalkan kami, Aku tetap Cinta dan Sayang Ayah. Ayahpun sekarang tidak meninggalkan aku dan ibuku lagi. Kini aku, adikku, dan ibuku sudah tinggal di rumah ayah yang sangat besar. Ibuku tidak jadi pergi ke luar negeri. Aku sangat bahagia tnggal bersama keluargaku yang sudah lengkap. Kini hidupku dan keluarga bahagia selamanya.
THE END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar