SEPENINGGAL AYAH . . .
Perempuan
itu duduk dengan menggendong anaknya seraya menyuapinya makan. Aku berfikir
sejenak dibawah pohon rindang, menengok di sekelilingku desa yang indah nan
sejuk membuat otakku benar-benar segar. Alangkah besar nikmat yang Kau berikan
padaku ini Ya Allah. Sungguh indah pemandangan perkebunan teh membentang
sekitar 500 m dari rumahku. Tak lama terlihat adikku berlarian bersama
teman-temannya bermain di perkebunan teh itu. Wajah ceria nan gembira terpancar
dari wajah mereka. Tapi tak lama kemudian ibuku datang menghampiriku.
“ Nak,
lihat adikmu tampak ceria bermain dengan teman-temannya. Ibu tak ingin
melihatmu dan adikmu sedih. Ibu juga akan sangat sedih jika ibu harus pergi
secepat ini.” Ku dengar ibu menangis tersedu-sedu. “Tapi meskipun ibu akan
tiada, ibu memberikan kepercayaan padamu untuk menjaga adikmu nak, ibu pergi
demi sekolahmu dan sekolah adikmu supaya kalian bisa jadi orang yang sukses”
Ibu tersenyum melihatku sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku hanya
terdiam dan tersenyum melihat ibu. Aku tahu ibu akan bekerja ke luar negeri
untuk menjadi TKW supaya bisa membiayai aku dan adikku sekolah. Seharusnya ini
adalah tugas seorang ayah, tapi ayahku pergi begitu saja saat adikku berumur 1
tahun dan saat itu aku berumur 4 tahun. Aku sangat membenci ayah. Tega sekali
ayah meninggalkan ibu sendirian untuk mengurusi aku dan adikku waktu kita masih
kecil. Tapi aku berniat akan membahagiakan ibu dengan menunjukkan prestasi yang
aku raih di sekolah.
Kemudian
ibu pergi kembali ke rumah untuk memasak. Aku masih terdiam dan merenungi
nasibku sekarang. Suatu hari nanti aku yakin aku bisa membuat ibuku bangga
padaku dan bisa membantu ibu membiayai sekolah adikku serta aku yakin aku bisa
menjadi orang yang sukses. Aku tahu aku adalah anak orang yang tidak mampu.
Tapi aku yakin dengan keinginan yang tinggi semua yang tidak mungkin pun akan
terjadi. Tanp ayahpun, aku bisa.
“ Kak
Rani antar Sari ke pasar yuk, tadi ibu menyuruh Sari untuk membeli sayuran dan
meminta Kak Rani untuk mengantarku” Sari datang menyadarkanku dari lamunanku.
Aku dan
Saripun pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Setiap pagi kami pergi ke pasar
untuk membantu ibu membeli bahan-bahan karedok untuk dijual. Kamipun mendatangi
penjual langganan kami dan membeli beberapa sayuran. Setelah membelinya, aku
dan Sari sengaja tak melewati jalan biasa yang sering dilewat kami saat pulang
dari pasar tapi melewati jalan pintas menyusupi jalan –jalan kecil di sekitar
rumah penduduk. Akhirnya aku dan Saripun sampai ke rumah dan memberikan
belanjaan pada ibu serta membantunya menyiapkan daganngan di warung kecil di
depan rumah kami.
“ Ibu
mungkin seminggu lagi disini setelah itu ibu akan berangkat ke Hongkong, ibu
harap warung ini tak tutup saat ibu pergi.” Ibu menoleh padaku sambil memereskan
sayuran.
“ Apakah
maksud ibu aku tetap harus membuka dan menjual karedok saat ibu pergi ?” ujarku
disusul dengan anggukan ibu sambil tersenyum padaku.
“ Baiklah
bu aku akan membukanya setiap hari, sebenarnya aku tidak rela ibu perg aku
takut majikan ibu nanti galak dan banyak kejadian tragis yang ada di tv tapi
yasudahlah aku akan merelakan ibu pergi. Ini semua gara-gara bapak bu, kalau
bapak ada disini hidup kita tidak akan menderita seperti ini.” Tak aku sadari
air mataku jatuh perlahan dari bola mataku.
Ibu
tersenyum dan mengelus kepalaku sambil menatapku seakan meyakinkanku bahwa kita
tidak hidup menderita tapi hidup bahagia. Akupun membalas senyumannya. Akupun
membuka warungnya dan setelah itu aku izin bermain keluar.
Aku
menemani Sari bermain di halaman di depan rumahku. Aku melihat warungku
ternyata sangat ramai banyak sekali pembeli. Memang karedok ibuku banyak
diminati oleh warga didesa ini. Alhamdulillah uang hasil penjualanpun cukup
untuk kebutuhan sehari-hari tapi tidak cukup untuk membiayai sekolahku dan
adikku. Kasihan ibu membanting tulang sendirian, aku hanya bisa membantu ibu
belanja sayur dan membantu ibu berjualan. Andai ada ayah disini semuanya akan
berbeda dari sekarang meskipun aku membencinya tapi aku sangat merindukannya,
aku rindu kasih sayang ayah. Tak kusadari air mataku bercucuran, aku hanya bisa
berdoa aku bisa bertemu ayah dan tinggal bersama disini.
5 haripun
berlalu, ibuku sangat sibuk hari ini menyiapkan barang-barang yang akan dibawa
untuk ke Hongkong besok pagi. Akupun membantu membereskan baju-baju ibu serta
membereskan rumah. Pagi ini sungguh sangat sibuk. Saripun membantu ibu
memberekan baju dan barang yang akan dibawa. Saat aku menyapu halaman rumah,
tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiriku. Turun seorang laki-laki dengan
memakai baju kantoran dengan sangat rapi. Laki-laki itupun menghampiriku,
terdiam sejenak mengeluarkan air mata lalu memelukku. Aku sangat kebingungan
sebenarnya siapa bapak ini ? Karena mendengar suara mobil, ibu dan adikku
keluar rumah. Sesampainya di pintu …
Braaaaaaaaaaaaak
……
Keranjang
sayuran yang dibawa ibuku terjatuh ke lantai. Aku dan lelaki itupun terkejut
dan melihat ibuku. Ibuku menangis dan kaget melihat sesosok lelaki yang tadi
memelukku. Merekapun saling bertatapan sambil menangis didepan aku dan adikku.
Lalu lelaki itupun menghampiri ibuku.
“ Maafkan
aku Laras, aku sudah meninggalkanmu bertahun-tahun, aku sungguh mencari uang
dan akhirnya aku menjadi seperti ini. Aku masih setia padamu dan sekarang
ikutlah denganku ke rumahku. Kita bisa tinggal disana menjadi keluarga bahagia
bersama Rani dan Sari. Terima kasih untuk menjaga anak-anakku hingga menjadi
gadis yang cantik seperti ini. Aku sangat rindu padamu Laras” ujar Lelaki itu sambil
memegang tangan ibuku lalu memeluknya dengan erat.
Aku
terdiam melihat mereka. Apakah dia ayahku ? apakah dia yang sudah
meninggalkanku dan ibuku selama ini hidup sendiri menderita tanpa ada kabar
sedikitpun ?
“ Apakah
kau Rani ? kau sudah sangat cantik nak. Aku ayahmu. Ayah sangat meridukanmu
nak.” Lelaki itu melihatku dengan penuh senyuman.
“ Kau
ayahku ? ayah yang selama ini meninggalkanku, adikku, dan ibuku hidup sendiri
menderita seperti ini ? Ayah yang selama ini pergi bertahun-tahun tanpa ada
kabar sedikitpun ? asal ayah tahu, ayah sudah buat hidup kami menderita.
Kasihan ibu mencari uang sendiri, harusnya ini adalah tugas seorang ayah ? Ayah
kemana ? tidak ada ! aku benci ayah !” aku berlari menuju kamarku sambil
menangis.
Saat aku
menangis di dalam kamar tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku, akupun membuka
pintunya meskipun aku masih sangat terpukul dengan kedatangan ayahku.
“ Rani,
kau harus mengerti nak. Kamu sudah dewasa ibu harap kamu bisa memaafkan ayahmu.
Ibu yang sudah ditinggal dengan adanya kalian saja ibu sudah memaafkannya,
apalagi kamu nak sebagai anaknya. Apa kamu tidak merindukan ayahmu ?” ujar ibu
sambil mengelus kepalaku.
“ Rani
rindu sekali sama ayah bu, tapi Rani masih tidak terima ayah datang dengan
tiba-tiba dan sudah bertahun-tahun meninggalkan kita sendiri menderita bu”
“ Maafkan
ayah nak, bagaimanapun juga kalian adalah keluarga ayah meskipun selama
bertahun-tahun ayah meninggalkan kalian, ayah pasti kembali. Ayah hanya ingin
kembali ke rumah dengan tidak membawa bungkusan kosong tapi sudah mencapai
kesuksesan baru ayah akan kembali kesini. Itu janji ayah dulu nak. Maafkan ayah
ya” tiba-tiba ayah datang menggendong Sari dan langsung menghampiriku dan ibu.
Akupun
memeluk ayah dengan erat. Aku tahu sekarang dia adalah ayah yang baik bukan
seorang ayah yang tega meninggalkan keluarganya dengan tanpa sebab. Ingin ku
kakatakan padanya bahwa Aku Rindu Ayah
sekalipun ayah sudah lama pergi meninggalkan kami, Aku tetap Cinta dan Sayang
Ayah. Ayahpun sekarang tidak meninggalkan aku dan ibuku lagi. Kini aku,
adikku, dan ibuku sudah tinggal di rumah ayah yang sangat besar. Ibuku tidak
jadi pergi ke luar negeri. Aku sangat bahagia tnggal bersama keluargaku yang
sudah lengkap. Kini hidupku dan keluarga bahagia selamanya.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar