Rabu, 01 Oktober 2014

SUNTUK
Bila hati nan sukar Tiada niat yang ada Justru neting yang ku rasa Sukar ku hilangkan Aku datang … Wajah ceriamu ku rindu Tapi … Wajah suntukmu yang ada Membuatku jatuh ke lubang lumpur itu Kotor, dingin, tak ada kepedulian Kesalahan yang menyelimutiku Tuduhan, ocehan kritikan kuterima Harapanku hanya sebatas botol kosong Aku datang kawan .. Saranmu yang kuharapkan Kepedulianmu yang kubutuhkan Justru amarah yang kudapatkan Tuhan .. Ini bukan salah dia Ini bukan salah nya Menuduh orang, sendiri tak berkaca Diam diam diam ! Semua yang kulakukan salah Tak ada yang mengerti Jantungku selalu kau remuk Dengan tindakan dan ocehanmu itu STOP ! Jangan kau hinakan aku Jangan kau tuduh dia Lihat dirimu Bunga berduri …

Rabu, 02 April 2014

Artikel Galau dan Suntuk

Siapa sih yang ga pernah kenal sama yang namanya masalah ? siapa si yang ga pernah ngalamin rasa galau ataupun suntuk ? Saya yakin kalian semua yang membaca tulisan ini pasti pernah merasakan gimana rasanya galau ataupun suntuk. Inget kata galau dan suntuk kita pasti langsung nyambar sama yang namanya cinta. Padahal bukan hanya karena cinta loh sobat, kita pasti bisa galau ataupun suntuk karena masalah yang kita hadapi baik berupa pelajaran ataupun nilai ujian kita yang turun drastis. Iyakan ? ngaku deh ngaku. Gapapa kok itu merupakan hal yang wajar, kenapa ? karena manusia hidup pasti mempunyai banyak masalah. Dari mulai bayipun bahkan sampai sekarangpun kita mempunyai banyak masalah. Orang yang terlihat ceria pun pasti dia mempunyai masalah. Nah apalagi kita yang bisa dibilang kadang-kadang ceria kadang-kadang nangis gara-gara galau ? haha makanya sekarang kita bahas masalah galau dan suntuk yuk sobat karena dua kata ini emang lagi tenar banget dikalangan para remaja zaman sekarang khususnya pelajar.

Air mata adalah satu-satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan apa yang telah membuat perasaanmu terluka.” Ya benar banget tuh sobat. Saat kita galau bahkan saat kita mempunyai suatu masalah biasanya kita pasti menangis, meluapkan amarah dan kesal dalam hati. Menangislah jika itu membuat kamu menjadi tenang, apabila perlu teriaklah niscaya semua amarahmu semuanya terasa dikeluarkan secara spontan. Tapi alangkah lebih baiknya jika kita mengungkapkannya dengan hal-hal positif. Hmm apa saja ya hal positif itu ? yaitu dengan meluapkannya kepada hal positif seperti membersikan kaca, mencuci piring, pokoknya yang ga bikin rugi deh justru malah membuat untung apalagi bantuin mamah masak atau pekerjaan mamah, bukan hanya galau kita aja yang hilang, malahan mamah bakalan seneng dan bangga punya anak kaya kita yang sering membantunya, padahal kan cuma pelampiasan galau kita ajah ya hehe. Jika hal tersebut terus dilakukan setiap kali kita galau maka dampaknya akan besar sekali untuk kita dan bisa juga kita jadi kebal buat ngatasin galau dan gabakal bisa galau lagi. Wah wah keren tuh. Nah bukan hanya itu tapi mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Esa dengan cara sholat sobat. kita kan anak MAN dan hidup di lingkungan pesantren kan ? So pasti dong tau yang namanya sholat Duha, keterlaluan banget kalo ga tau anak MAN bukan tuh haha :D cobalah disaat kita lagi bingung atau galau, mendekatlah kepada Allah SWT. Sholat sunnah yang khusyu terus doa deh yang kusyu sama Allah dan jangan ketinggalan pula sobat untuk baca Al Qur’an hmm yang namanya tenang tuh emang tenang banget banget melebihi apapun yang buat kita tenang. Soalnya penulisnya sendiri pernah ngalamin gitu sobat. hehe .. so sekarang ilangin deh tuh yang namanya GALAU, semuan masalah pasti ka nada solusinya. Ada sebuah kalimat mengatakan “ Jika kamu lari dari masalah, makan kamu lari dari Kasih Sayang Allah” waduh parah banget yak, makanya hadapi masalah, BERANI ! jangan pernah berkata “ Ya Allah sungguh masalahku sangat besar” tai berkatalah “ Wahai Masalah, sesungguhnya Allah itu Maha Besar”. So kawan-kawan semuanya semangat ya. Yakin dan percayalah HIDUP INI INDAH. Semangaaaaaaaat J

Senin, 06 Januari 2014

Tahu Diri ( True Story)

Kali ini saya mau ngepost cerita nyata yang saya alamin sendiri dan berakhir kesedihan yang teramat dalam. saya harap cerita ini bisa menginspirasi anda semua dan anda semua tidak merasakan kepedihan yang pernah yang saya rasakan ini tentang cinta. huh -,- CHECK IT OUT ! ! !

TAHU DIRI
            Ku lihat dia menatapku. Entah hanya perasaanku saja atau nyata terjadi. Aku tersipu malu, senang sekali dilihat olehnya. Akupun tetap duduk tenang sendiri di taman yang indah. Entah apa yang terjadi tak ada orang lewat hanya aku dan dia di tempat duduk seberang sana. Tiba-tiba dia menghampiriku dan duduk disampingku sambil tersenyum. Tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. Aku bingung dibuatnya. Tiba-tiba sesosok wanita yang tak terlihat wajahnya menjemputnya dan pergi meninggalkanku.
            “ Kau mau kemana ? tega nian kau meninggalkanku sendiri disini. Aku suka kamu Gio …” ujarku sambil menarik tangannya.
            “ Maafkan aku Nad, aku harus pergi bersama dia” Gio melepaskan tanganku dan mendorongku ke tanah sambil tersenyum padaku.
Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak ……………….
            Aku terbangun dari tidurku. Untung hanya mimpi. Sebuah mimpi buruk yang tak ku inginkan sampai kapanpun. Meskipun aku dan Gio hanya berteman biasa tapi aku menyimpan perasaan suka padanya. Berteman yang tak pernah bertemu, meskipun satu angkatan aku ngefans sama dia dari awal aku bertemu dan tnggal diasrama ini. Aku melihat tingkah lakunya yang rajin, ganteng, dan sifat juteknya yang aku suka. Awalnya aku hanya diam-diam suka padanya tanpa seorangpun tahu. Memang aku tak terlalu akrab dengannya. Aku juga tak tahu tentang dirinya.
            “ Liatin siapa si Nad ? ko senyum-senyum sendiri liat ke asrama cowok ? “ Vita mengagetkanku yang sedang melamun melihat asrama cowok.
            “ Engga papa ko cuma lihat-lihat ajah bangunannya bagus hehe” ujarku sambil tersenyum.
            “ ah sudahlah jangan bohong gitu. Kelihatan tuh dari matanya. Siapa-siapa sih siapa ? “ Vita menengok lewat jendela.
            “  nanti aku ceritakan deh, udah sekarang cepetan gih jemur bajunya, malu disini banyak cowok” aku pun menjewer telinga Vita.
            Aku melihatnya sedang tiduran sambil melihat buku. Subhanallah rajin sekali anak itu. Aku ingin sekali dekat dengannya. Lalu aku ceritakan semuanya pada Vita. Vita terkejut dan tertawa mendengar aku suka pada Gio.
            “ Gio emang banyak yang suka ko Nad. Tapi aku gasuka dia. Jadi buat kamu ajah. Aku bakal bantuin kamu buat dekat sama dia. “ ujar Vita sambil memegang pundakku.
            Hari ini adalah malam jum’at. Seperti biasanya di asramaku selalu mengadakan marhabanan. Di akhir acara, Vita menulis di secarik kertas bertuliskan “ Nadia Love Gio “ lalu dilemparkan ke tempat anak cowok. Akupun tak membolehkan Vita untuk melempar kertasnya, tapi sudah terlanjur semuanya. Semua orang pun akhirnya tahu dan berkata “Cie cie”.
Semenjak kejadian itupun aku malu untuk bertemu dia lagi. Akhirnya aku pilih untuk menjauh darinya. Hari ini ada lomba membaca puisi di sekolahku dalam rangka bulan bahasa. Akupun mengikuti lomba membaca puisi mewakili kelasku. Saat dikelas, aku melihat perwakilah kelas sebelahku sangat bagus dalam membacakan puisi. Tiba-tiba aku sangat minder dan sangat down untuk mengikuti lomba itu.  Akupun mencoba untuk menenangkan hatiku ini dengan membuka facebook. Saat aku lihat pemberitahuan, Gio like foto profil aku di facebook. Spontan aku berjingkrak-jingkrak kegirangan dan tumbuh rasa semangatku kembali. Semua teman-temanku bingung melihat tingkah lakuku yang aneh  dan bertanya-tanya. Tapi hanya ku jawab dengan kalimat “ Gapapa, cuma seneng ajah mau baca puisi “. Akupun sengaja menutupi kesenanganku.
Hari berganti hari akupun berani mengirimi dia pesan dan akhirnya mulai tahu nomor kontak dia lewat temanku. Awalnya aku tak mau tapi temanku yang mengawalinya beberapa sms. Akhirnya sms dengan dia pun berlanjut.
Hari ini aku akan mengambil tugas wawancaraku untuk laporan berita majalah di kotaku. Tapi kali ini aku belum mendapatkan foto orang yang aku wawancarai itu, dan dia berjanji akan memberinya pulang sekolah nanti. tapi ternyata dia sudah pulang ke rumahnya. Akupun bingung. Hari ini harus ku bawa foto itu untuk ku setorkan. Tak mungkin aku datangi rumah seorang cowok, yang ada malah nanti aku malu + dimarahi ketua asramaku.
“ eh Hab tolong aku dong, tolong mintain foto hasil wawancara itu ke Raffi yang rumahnya deket masjid itu, tolong ya please “ akupun memelas pada adik ketua asramau itu.
“ Giooooooo, minta tolong nih si Nadia katanya ambilin foto ke rumah Raffi “ ujar Syihab berteriak dan itu mengejutkanku.
            Aku tak menyangka ternyata Gio menghampiri kami dan diapun mau membantuku, padahal aku tak mau mengganggunya. Diapun pergi meninggalkanku, akupun segera menyusul keluar dan menunggunya menggambil fotonya. Akupupn tersipu malu sambil tersenyum melihatnya dari belakang. Dia baik sekali padaku.
            “ Nad, si Raffinya lagi di warung, ayo ikut aja aku anterin.” Ujarnya sambil tersenyum padaku.
            Akupun mengangguk tanda mengiyakan sambil tersenyum dan mengikutinya menuju warung disebelah madrasah. Diapun menunjukkan orang yang aku maksud. Lalu diapun pergi meninggalkanku dan tersenyum padaku. Sungguh baik orang itu Ya Allah. Akupun mengucapkan terima kasih lewat sms. Dan akhirnya akupun menuju majalah tempatku akan mengirimkan berita.
            Bulan berganti bulan akupun semakin dekat dengan dia tapi hanya sebatas teman. Terkadang aku merasa percaya diri bahwa dia suka padaku tapi tak berani mengungkapkan perasaannya padaku. Sampai suatu ketika pagi itu aku sedang menyetrika baju yang akan ku pakai ke sekolah. Tiba-tiba Dhifa adik kelasku datang menghampiri dan membuka pintu dengan wajah yang sangat bingung.
            “ Teh Nadia, apa benar Gio pacaran sama Bibah ? “ ujarnya sambil membisik di telingaku.
            Aku terkejut. Spontan aku diam dam menatap wajah Dhifa dengan penuh tak percaya. Apa iya Gio pacaran sama Bibah ? ah aku tak mengerti tega sekali Bibah berpacaran setelah putus dengan teman dekat Gio. Apalagi saat kulihat wajah Dhifa aku pun teringat bahwa Bibah juga telah menghancurkan hubungan dhifa karena dia merebut pacar Dhifa dan membuat masalah dengan sahabatnya sendiri yaitu Dhifa. Dan sekarang Bibah malah pacaran sama Gio, bahkan dia tahu bahwa aku suka sama Gio.
            “ Teh Nadia.. Teh .. Teh .. ko melamun ? teteh sedih ya aku ngomong seperti ini ? “ ucap Dhifa mengagetkanku.
            “ Ada apa sih dhifa ? mainnya bisik bisikan nih sampe buat Nadia kaget begitu. Ada apa sih ? “ ujar Vita.
            Dhifapun bercerita kepada semua ankan di kamar aku. Sedangkan aku melanjutkan menyetrika dan tanpa mereka ketahui saat aku menyetrika baju aku meneteskan air mata. Harapanku pun semuanya hancur. Orang baik seperti dia yang aku suka tak ku sangka akan begini jadinya.
            “ Nadia, sabar ya Gio emang ga pantes buat kamu. Kamu pasti bisa dapetin yang lebih sangat amat baik dari Gio oke “ Vita memegang pundakku.
            Akupun hanya mengangguk dan tersenyum kepada Vita. Aku juga sadar bahwa aku bukan siapa-siapa dia. Aku juga hanya teman dia. Dan seorang teman harus senang jikalau temannya senang. Meskipun aku suka padanya, tapi inilah akibat dan resiko orang suka diam-diam dan tak berani mengungkapkannya. Mulai sekarang akupun mulai menjauhi Gio dan berusaha untuk melupakan Gio. Mungkin sangat susah untuk melupakan Gio karena dia satu asrama denganku. Tapi aku tahu diri bahwa orang sejelek aku dan aku yang tak sempurna ini tak pantas dengan Gio. Hanya Bibah yang pantas dengan Gio. Andai kamu tahu Gio, ternyata mimpi aku selama ini merupakan pertanda kalau aku tak pantas untuk Gio. Dan aku lebih baik seperti ini didepanmu dan Bibah ku senang, tapi kau tak tahu di dalam hatiku menangis. Aku akan mencoba untuk melupakanmu, Gio.

THE END

True story inspiration by some one

Selasa, 13 Agustus 2013

Sepeninggal ayah (Cerpen)

SEPENINGGAL AYAH . . .
Perempuan itu duduk dengan menggendong anaknya seraya menyuapinya makan. Aku berfikir sejenak dibawah pohon rindang, menengok di sekelilingku desa yang indah nan sejuk membuat otakku benar-benar segar. Alangkah besar nikmat yang Kau berikan padaku ini Ya Allah. Sungguh indah pemandangan perkebunan teh membentang sekitar 500 m dari rumahku. Tak lama terlihat adikku berlarian bersama teman-temannya bermain di perkebunan teh itu. Wajah ceria nan gembira terpancar dari wajah mereka. Tapi tak lama kemudian ibuku datang menghampiriku.
“ Nak, lihat adikmu tampak ceria bermain dengan teman-temannya. Ibu tak ingin melihatmu dan adikmu sedih. Ibu juga akan sangat sedih jika ibu harus pergi secepat ini.” Ku dengar ibu menangis tersedu-sedu. “Tapi meskipun ibu akan tiada, ibu memberikan kepercayaan padamu untuk menjaga adikmu nak, ibu pergi demi sekolahmu dan sekolah adikmu supaya kalian bisa jadi orang yang sukses” Ibu tersenyum melihatku sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku hanya terdiam dan tersenyum melihat ibu. Aku tahu ibu akan bekerja ke luar negeri untuk menjadi TKW supaya bisa membiayai aku dan adikku sekolah. Seharusnya ini adalah tugas seorang ayah, tapi ayahku pergi begitu saja saat adikku berumur 1 tahun dan saat itu aku berumur 4 tahun. Aku sangat membenci ayah. Tega sekali ayah meninggalkan ibu sendirian untuk mengurusi aku dan adikku waktu kita masih kecil. Tapi aku berniat akan membahagiakan ibu dengan menunjukkan prestasi yang aku raih di sekolah.
Kemudian ibu pergi kembali ke rumah untuk memasak. Aku masih terdiam dan merenungi nasibku sekarang. Suatu hari nanti aku yakin aku bisa membuat ibuku bangga padaku dan bisa membantu ibu membiayai sekolah adikku serta aku yakin aku bisa menjadi orang yang sukses. Aku tahu aku adalah anak orang yang tidak mampu. Tapi aku yakin dengan keinginan yang tinggi semua yang tidak mungkin pun akan terjadi. Tanp ayahpun, aku bisa.
“ Kak Rani antar Sari ke pasar yuk, tadi ibu menyuruh Sari untuk membeli sayuran dan meminta Kak Rani untuk mengantarku” Sari datang menyadarkanku dari lamunanku.
Aku dan Saripun pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Setiap pagi kami pergi ke pasar untuk membantu ibu membeli bahan-bahan karedok untuk dijual. Kamipun mendatangi penjual langganan kami dan membeli beberapa sayuran. Setelah membelinya, aku dan Sari sengaja tak melewati jalan biasa yang sering dilewat kami saat pulang dari pasar tapi melewati jalan pintas menyusupi jalan –jalan kecil di sekitar rumah penduduk. Akhirnya aku dan Saripun sampai ke rumah dan memberikan belanjaan pada ibu serta membantunya menyiapkan daganngan di warung kecil di depan rumah kami.
“ Ibu mungkin seminggu lagi disini setelah itu ibu akan berangkat ke Hongkong, ibu harap warung ini tak tutup saat ibu pergi.” Ibu menoleh padaku sambil memereskan sayuran.
“ Apakah maksud ibu aku tetap harus membuka dan menjual karedok saat ibu pergi ?” ujarku disusul dengan anggukan ibu sambil tersenyum padaku.
“ Baiklah bu aku akan membukanya setiap hari, sebenarnya aku tidak rela ibu perg aku takut majikan ibu nanti galak dan banyak kejadian tragis yang ada di tv tapi yasudahlah aku akan merelakan ibu pergi. Ini semua gara-gara bapak bu, kalau bapak ada disini hidup kita tidak akan menderita seperti ini.” Tak aku sadari air mataku jatuh perlahan dari bola mataku.
Ibu tersenyum dan mengelus kepalaku sambil menatapku seakan meyakinkanku bahwa kita tidak hidup menderita tapi hidup bahagia. Akupun membalas senyumannya. Akupun membuka warungnya dan setelah itu aku izin bermain keluar.
Aku menemani Sari bermain di halaman di depan rumahku. Aku melihat warungku ternyata sangat ramai banyak sekali pembeli. Memang karedok ibuku banyak diminati oleh warga didesa ini. Alhamdulillah uang hasil penjualanpun cukup untuk kebutuhan sehari-hari tapi tidak cukup untuk membiayai sekolahku dan adikku. Kasihan ibu membanting tulang sendirian, aku hanya bisa membantu ibu belanja sayur dan membantu ibu berjualan. Andai ada ayah disini semuanya akan berbeda dari sekarang meskipun aku membencinya tapi aku sangat merindukannya, aku rindu kasih sayang ayah. Tak kusadari air mataku bercucuran, aku hanya bisa berdoa aku bisa bertemu ayah dan tinggal bersama disini.
5 haripun berlalu, ibuku sangat sibuk hari ini menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk ke Hongkong besok pagi. Akupun membantu membereskan baju-baju ibu serta membereskan rumah. Pagi ini sungguh sangat sibuk. Saripun membantu ibu memberekan baju dan barang yang akan dibawa. Saat aku menyapu halaman rumah, tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiriku. Turun seorang laki-laki dengan memakai baju kantoran dengan sangat rapi. Laki-laki itupun menghampiriku, terdiam sejenak mengeluarkan air mata lalu memelukku. Aku sangat kebingungan sebenarnya siapa bapak ini ? Karena mendengar suara mobil, ibu dan adikku keluar rumah. Sesampainya di pintu …
Braaaaaaaaaaaaak ……
Keranjang sayuran yang dibawa ibuku terjatuh ke lantai. Aku dan lelaki itupun terkejut dan melihat ibuku. Ibuku menangis dan kaget melihat sesosok lelaki yang tadi memelukku. Merekapun saling bertatapan sambil menangis didepan aku dan adikku. Lalu lelaki itupun menghampiri ibuku.
“ Maafkan aku Laras, aku sudah meninggalkanmu bertahun-tahun, aku sungguh mencari uang dan akhirnya aku menjadi seperti ini. Aku masih setia padamu dan sekarang ikutlah denganku ke rumahku. Kita bisa tinggal disana menjadi keluarga bahagia bersama Rani dan Sari. Terima kasih untuk menjaga anak-anakku hingga menjadi gadis yang cantik seperti ini. Aku sangat rindu padamu Laras” ujar Lelaki itu sambil memegang tangan ibuku lalu memeluknya dengan erat.
Aku terdiam melihat mereka. Apakah dia ayahku ? apakah dia yang sudah meninggalkanku dan ibuku selama ini hidup sendiri menderita tanpa ada kabar sedikitpun ?
“ Apakah kau Rani ? kau sudah sangat cantik nak. Aku ayahmu. Ayah sangat meridukanmu nak.” Lelaki itu melihatku dengan penuh senyuman.
“ Kau ayahku ? ayah yang selama ini meninggalkanku, adikku, dan ibuku hidup sendiri menderita seperti ini ? Ayah yang selama ini pergi bertahun-tahun tanpa ada kabar sedikitpun ? asal ayah tahu, ayah sudah buat hidup kami menderita. Kasihan ibu mencari uang sendiri, harusnya ini adalah tugas seorang ayah ? Ayah kemana ? tidak ada ! aku benci ayah !” aku berlari menuju kamarku sambil menangis.
Saat aku menangis di dalam kamar tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku, akupun membuka pintunya meskipun aku masih sangat terpukul dengan kedatangan ayahku.
“ Rani, kau harus mengerti nak. Kamu sudah dewasa ibu harap kamu bisa memaafkan ayahmu. Ibu yang sudah ditinggal dengan adanya kalian saja ibu sudah memaafkannya, apalagi kamu nak sebagai anaknya. Apa kamu tidak merindukan ayahmu ?” ujar ibu sambil mengelus kepalaku.
“ Rani rindu sekali sama ayah bu, tapi Rani masih tidak terima ayah datang dengan tiba-tiba dan sudah bertahun-tahun meninggalkan kita sendiri menderita bu”
“ Maafkan ayah nak, bagaimanapun juga kalian adalah keluarga ayah meskipun selama bertahun-tahun ayah meninggalkan kalian, ayah pasti kembali. Ayah hanya ingin kembali ke rumah dengan tidak membawa bungkusan kosong tapi sudah mencapai kesuksesan baru ayah akan kembali kesini. Itu janji ayah dulu nak. Maafkan ayah ya” tiba-tiba ayah datang menggendong Sari dan langsung menghampiriku dan ibu.
Akupun memeluk ayah dengan erat. Aku tahu sekarang dia adalah ayah yang baik bukan seorang ayah yang tega meninggalkan keluarganya dengan tanpa sebab. Ingin ku kakatakan padanya bahwa Aku Rindu Ayah sekalipun ayah sudah lama pergi meninggalkan kami, Aku tetap Cinta dan Sayang Ayah. Ayahpun sekarang tidak meninggalkan aku dan ibuku lagi. Kini aku, adikku, dan ibuku sudah tinggal di rumah ayah yang sangat besar. Ibuku tidak jadi pergi ke luar negeri. Aku sangat bahagia tnggal bersama keluargaku yang sudah lengkap. Kini hidupku dan keluarga bahagia selamanya.
THE END


Cerpenku

Hello kawan-kawan ini postingan pertamaku, aku akan memberikan kalian sebuah cerpen pengalamanku sedikit lucu dan lumayan menyebalkan haha. aku berharap kalian dapat mengambil kesimpulan serta amanat yang ada disini ya kawan. terus kunjungi blogku :)
SALAH RABA
Langit cerah nuansa pagi cahaya matahari menyinari dunia. Suara kokok ayam di rumah nan merdu menandakan sang pagi datang ke dunia. Seakan membangunkan Pui untuk bangun dari tidurnya. Jendela kamarnyapun dibuka olehnya. Udara sejuk nan indahnya panorama pagi membuat hati Pui tenang. Anak-anak berlarian dan bermain dengan raut wajah yang berseri-seri karena hari libur telah tiba. Tetapi tidak bagi Pui, dia harus kembali ke asrama tempat dia menuntut ilmu.
Pagi ini Pui sangat sedih. Bukan karena dia tidak mau pergi ke asrama tetapi sang bunda yang tidak bisa mengantarkannya ke asrama dikarenakan ada meeting mendadak di kantornya. Dengan hati yang kecewa dan terpaksa, diapun akhirnya mau ke asrama bersama ayah. Berhiaskan pakaian hijau dengan rok hitam dan jilbab hijau disertai dengan raut wajah yang sedih akhirnya Puipun pergi ke asrama dengan hati yang sangat kecewa kepada bundanya.
Perjalanan jauh Bandung-Yogyakarta menempuh waktu 7 jampun tak terasa. Puipun sudah tiba di asrama SMAN 11 Yogyakarta. Dengan dibantu ayah membawa barang-barangnya ke kamar, Puipun masih memasang raut wajah sedih dengan tidak adanya bunda disampingnya sekarang. Hanya beberapa menit saja, ayah langsung berpamitan pulang karena dia harus berangkat ke kantor besok. Dengan hati terpaksa Puipun membolehkan sang ayah untuk kembali ke rumah.  
Setelah ayahnya pergi Pui langsung berlari ke kamarnya dan menangis.
“ Pui, kenapa kamu menangis ? apakah kamu tidak merelakan ayahmu pergi ?” tiba-tiba Yumi datang dan langsung menghampiri Pui.
“ Ah tidak, aku tidak apa-apa ko Yumi cantik, mungkin kecapean doang wlee” Pui menghapus air matanya sambil menjulurkan lidahnya pada Yumi.
“ Ah masa ? boong banget, tuh liat mukanya ajah berubah 180 derajat mirip Patrick hahaha “ canda Yumi sambil berlarian dan disusul oleh Pui dengan membawa bantal.
Hari ini adalah hari pertama Pui kembali ke sekolah. Hari yang sangat indah, dia bertemu sahabat karibnya Isfa, Nia, Ani, dan Uti. Mereka adalah sahabat Pui dari SMP dan sekarang bisa bersekolah bersama kembali di SMAN 11 Yogyakarta.
“ Hai Pui, sudah lama yah kita tidak ketemu, kangen Pui “ teriak Isfa sambil berlari memeluk Pui.
“ Hai teman-teman senang bisa bertemu kalian lagi disini, aku juga kangen kalian, meskipun sudah berkomunikasi lewat hape, tetep ajah pengen ketemu kalian banget” Ujar Pui sambil mencubit pipi teman-temannya satu-satu.
“ Kita juga kangen kamu, kangen sifat kamu yang cerewet, kangen suara Isfa yang menggetarkan jiwa banyak orang untuk menutup telinga, kangen Nia yang selalu baca buku, dan kangen Uti  yang tiap jam tiap menit tiap detik pegang hape mulu, kangen kalian semua” Ucap Nia sambil memeluk semua sahabat karibnya sambil menangis. Mereka semua berpelukan dan tertawa bersama.
Hari ini pelajaran Bahasa Inggris. Pui sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris tapi dia tidak menyukai guru yang mengajarnya karena agak tidak jelas dalam mengajar. Tapi semangat belajar terhadap pelajaran yang dia suka tetap ada apalagi ditambah bahwa pacarnya sekelas dengan dia.
“ Hari ini kita belajar di luar lingkungan sekolah. Bawa buku serta alat tulisnya. Jangan lupa bawa kue ya nanti Mr minta” ujar Mr Ucu dengan polosnya.
“ Kita mau belajar dimana Mr ? kan sebelumnya kita belum pernah keluar asrama kecuali mau beli makan. Kalo dimarahin gimana ? kalo nyasar gimana? Kalo capek gimana ? Kalo kakinya sakit gimana ? kalooo….. “ ujar Isfa dengan lantangnya sehingga membuat siswa lainnya menutup telinganya.
“ Isfaaaaaaaaaa, diem suara kamu tuh kaya backsound, bikin telinga aku sakit nih“ ujar Uti dengan sambil memamerkan bibir manyunnya.
“ Iyah Isfa benar tuh kata Uti. Kalo dimarahin ya Mr yang tanggung jawab, kalo nyasar juga yang dimarahin dan yang tanggung jawab Mr Ucu, kalo capek juga suruh mijitin Mr Ucu, kalo kakinya sakit juga potong ajah kakinya Mr Ucu buat gantiin kaki kamu hahahaha “ ujar Ani dengan disusul tawa anak-anak kelas X 1.
“ enak ajah tanggung jawab sendiri pokoknya, Mr ga urusin. Sekarang ayo siap-siap kita berangkat menuju lapangan depan Kantor PMI” ujar Mr Ucu sambil memakai topi ala tentara penjajah zaman dahulu dan bersiap-siap pergi.
Selama perjalanan Pui dan teman-teman berdiskusi tentang tempat wisata yang ada di daerah sini karena mereka merupakan siswa baru di SMAN 11 Yogyakarta dan belum tahu tentang daerah sekitar. Tiba-tiba Mr Ucu langsung ikut berdiskusi dengan mereka. Mr Ucu mengatakan bahwa ada sebuah taman bunga yang sangat indah di belakang rumah sakit yang tak jauh dari asrama. Pui langsung tertarik utuk pergi kesana saat hari libur bersama teman-temannya karena Pui sangat suka pergi ke taman bunga waktu dia berada di rumah, semenjak dia mendengar cerita Mr Ucu dia jadi semangat dan ingin segera mengunjungi taman tersebut.
Beberapa hari berlalu, hari ini adalah hari minggu. Pui berniat pergi bersama teman-temannyake taman bunga yang diceritakan Mr Ucu. Tapi sayang, Pui sangat sedih karena Isfa dan Ani tak bisa ikut karena dia mempunyai acara sendiri. Jadi dia hanya pergi bersama Uti, Nia dan Yumi. Pui juga mangajak kekasihnya Sau pergi ke taman bunga itu. Perjalananpun dimulai pukul 8 pagi dengan menggoes sepeda masing-masing Pui berangkat bersama teman-temannya. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Masjid Al-Hidayah, masjid tersebut terkenal sangat indah dan mempunyai taman yang luas serta pemandangan yang indah. Setelah beberapa jam di masjid Al-hidayah, mereka melanjutkan perjalanan menuju taman bunga. Setelah mereka sudah sampai dibelakang rumah sakit mereka tidak menemukan adanya taman bunga yang sudah diceritakan Mr Ucu. Akhirnya merekapun bertanya pada salah satu penduduk sekitar.
“ Semenjak ibu tinggal disini ibu tidak tahu ada taman bunga disini, tapi mungkin dibelakang rumah sakit itu ada jalan kecil coba belok ke arah kanan saja, maaf ibu sering kali lupa maklum ya de ibu udah tua hehe” ujar ibu yang sedang menggendong anak kecil tersebut.
Akhirnya merekapun pergi ke taman bunga yang ditunjukkan ibu itu. Setelah masuk ke gang, Pui Nampak curiga karena warga sekitar yang tinggal digang tersebut melihat mereka sambil tertawa. Setelah beberapa menit kemudian, ternyata tak ada taman bunga dibelakang rumah sakit itu, tapi sebuah kuburan berhiaskan tanaman bunga kamboja berwarna warni. Melihat itu semua mereka semua kesal kepada Mr Ucu karena merasa telah di bohongi. Tetapi pada akhirnya mereka tertawa bersama dan kembali ke asrama dengan perasaan kecewa.
Keesokan harinya, Pui dan teman-temannya menemui Mr Ucu dengan raut wajah yang kesal dan penuh amarah. Untungnya di kantor guru saat itu masih sepi, sehingga Pui dan teman-temannya berani masuk ke kantor.
“ Mr Ucu boong “ Uti langsung berbicara di depan Mr Ucu dengan raut muka ditekuk disertai bibir manyunnya.
“ iyah Mr Ucu hanya omong kosong belaka, kata Pak Muhid dan di dalam buka Akidah Akhlak hal. 50 berbohong itu dosa. Dosa loh Mr Ucu tuh udah bohongin kita semua “ Ina langsung menyambung pembicaraan Uti dan Mr Ucu dengan memasang raut wajah memelasnya.
“ Bohong ? maksud kalian semua apa ? Mr Ucu bohong apa pada kalian semua ? “ ujar Mr Ucu sambil tersenyum.
Kemudian Pui menceritakan semua pengalaman kemarin bersama teman-temannya kepada Mr Ucu bahwa mereka telah merasa dibohongi oleh Mr Ucu tentang taman bunga yang beliau katakana 2 hari yang lalu. Setelah mendengar cerita mereka semua, Mr Ucu tertawa terbahak-bahak sehingga membuat mereka kebingungan.
“ Kalian semua tuh salah raba dimana taman bunga itu berada “ ujar Mr Ucu sambil meminum tehnya.
“ Salah raba ? maksudnya apa Mr ? aku baru denger kata “ Salah Raba” sekarang “ ujar Uti sambil melongo dengan WATADOSnya sambil twitteran.
“ Salah raba itu dalam Kamus Bahasa Indonesia sama saja dengan salah menduga atau salah kelir “ Ani menjelaskan pada Uti dengan bergaya ala seorang guru.
Mr Ucu menjelaskan bahwa letak taman bunga itu bukan di tempat yang mereka datangi, tetapi letaknya masih jauh dari tempat yang mereka duga. Pui dan teman-temannya merasa bersalah telah menuduh Mr Ucu sebagai pembohong dan akhirnya merekapun meminta maaf kepada Mr Ucu dan merekapun tertawa bersama.


TAMAT