Ghimari's Blog
Rabu, 01 Oktober 2014
SUNTUK
Bila hati nan sukar
Tiada niat yang ada
Justru neting yang ku rasa
Sukar ku hilangkan
Aku datang …
Wajah ceriamu ku rindu
Tapi …
Wajah suntukmu yang ada
Membuatku jatuh ke lubang lumpur itu
Kotor, dingin, tak ada kepedulian
Kesalahan yang menyelimutiku
Tuduhan, ocehan kritikan kuterima
Harapanku hanya sebatas botol kosong
Aku datang kawan ..
Saranmu yang kuharapkan
Kepedulianmu yang kubutuhkan
Justru amarah yang kudapatkan
Tuhan ..
Ini bukan salah dia
Ini bukan salah nya
Menuduh orang, sendiri tak berkaca
Diam diam diam !
Semua yang kulakukan salah
Tak ada yang mengerti
Jantungku selalu kau remuk
Dengan tindakan dan ocehanmu itu
STOP !
Jangan kau hinakan aku
Jangan kau tuduh dia
Lihat dirimu
Bunga berduri …
Rabu, 02 April 2014
Artikel Galau dan Suntuk
Siapa
sih yang ga pernah kenal sama yang namanya masalah ? siapa si yang ga pernah
ngalamin rasa galau ataupun suntuk ? Saya yakin kalian semua yang membaca
tulisan ini pasti pernah merasakan gimana rasanya galau ataupun suntuk. Inget
kata galau dan suntuk kita pasti langsung nyambar sama yang namanya cinta.
Padahal bukan hanya karena cinta loh sobat, kita pasti bisa galau ataupun
suntuk karena masalah yang kita hadapi baik berupa pelajaran ataupun nilai
ujian kita yang turun drastis. Iyakan ? ngaku deh ngaku. Gapapa kok itu
merupakan hal yang wajar, kenapa ? karena manusia hidup pasti mempunyai banyak
masalah. Dari mulai bayipun bahkan sampai sekarangpun kita mempunyai banyak
masalah. Orang yang terlihat ceria pun pasti dia mempunyai masalah. Nah apalagi
kita yang bisa dibilang kadang-kadang ceria kadang-kadang nangis gara-gara
galau ? haha makanya sekarang kita bahas masalah galau dan suntuk yuk sobat
karena dua kata ini emang lagi tenar banget dikalangan para remaja zaman
sekarang khususnya pelajar.
“Air mata adalah satu-satunya cara bagaimana mata berbicara ketika
bibir tak mampu menjelaskan apa yang telah membuat perasaanmu terluka.” Ya
benar banget tuh sobat. Saat kita galau bahkan saat kita mempunyai suatu
masalah biasanya kita pasti menangis, meluapkan amarah dan kesal dalam hati.
Menangislah jika itu membuat kamu menjadi tenang, apabila perlu teriaklah
niscaya semua amarahmu semuanya terasa dikeluarkan secara spontan. Tapi
alangkah lebih baiknya jika kita mengungkapkannya dengan hal-hal positif. Hmm
apa saja ya hal positif itu ? yaitu dengan meluapkannya kepada hal positif
seperti membersikan kaca, mencuci piring, pokoknya yang ga bikin rugi deh
justru malah membuat untung apalagi bantuin mamah masak atau pekerjaan mamah,
bukan hanya galau kita aja yang hilang, malahan mamah bakalan seneng dan bangga
punya anak kaya kita yang sering membantunya, padahal kan cuma pelampiasan
galau kita ajah ya hehe. Jika hal tersebut terus dilakukan setiap kali kita
galau maka dampaknya akan besar sekali untuk kita dan bisa juga kita jadi kebal
buat ngatasin galau dan gabakal bisa galau lagi. Wah wah keren tuh. Nah bukan
hanya itu tapi mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Esa dengan cara sholat
sobat. kita kan anak MAN dan hidup di lingkungan pesantren kan ? So pasti dong
tau yang namanya sholat Duha, keterlaluan banget kalo ga tau anak MAN bukan tuh
haha :D cobalah disaat kita lagi bingung atau galau, mendekatlah kepada Allah
SWT. Sholat sunnah yang khusyu terus doa deh yang kusyu sama Allah dan jangan
ketinggalan pula sobat untuk baca Al Qur’an hmm yang namanya tenang tuh emang
tenang banget banget melebihi apapun yang buat kita tenang. Soalnya penulisnya
sendiri pernah ngalamin gitu sobat. hehe .. so sekarang ilangin deh tuh yang
namanya GALAU, semuan masalah pasti ka nada solusinya. Ada sebuah kalimat
mengatakan “ Jika kamu lari dari masalah, makan kamu lari dari Kasih Sayang
Allah” waduh parah banget yak, makanya hadapi masalah, BERANI ! jangan pernah
berkata “ Ya Allah sungguh masalahku sangat besar” tai berkatalah “ Wahai
Masalah, sesungguhnya Allah itu Maha Besar”. So kawan-kawan semuanya semangat
ya. Yakin dan percayalah HIDUP INI INDAH. Semangaaaaaaaat J
Senin, 06 Januari 2014
Tahu Diri ( True Story)
Kali ini saya mau ngepost cerita nyata yang saya alamin sendiri dan berakhir kesedihan yang teramat dalam. saya harap cerita ini bisa menginspirasi anda semua dan anda semua tidak merasakan kepedihan yang pernah yang saya rasakan ini tentang cinta. huh -,- CHECK IT OUT ! ! !
TAHU DIRI
Ku lihat dia menatapku. Entah hanya
perasaanku saja atau nyata terjadi. Aku tersipu malu, senang sekali dilihat
olehnya. Akupun tetap duduk tenang sendiri di taman yang indah. Entah apa yang
terjadi tak ada orang lewat hanya aku dan dia di tempat duduk seberang sana.
Tiba-tiba dia menghampiriku dan duduk disampingku sambil tersenyum. Tak satupun
kata yang keluar dari mulutnya. Aku bingung dibuatnya. Tiba-tiba sesosok wanita
yang tak terlihat wajahnya menjemputnya dan pergi meninggalkanku.
“ Kau mau kemana ? tega nian kau
meninggalkanku sendiri disini. Aku suka kamu Gio …” ujarku sambil menarik
tangannya.
“ Maafkan aku Nad, aku harus pergi
bersama dia” Gio melepaskan tanganku dan mendorongku ke tanah sambil tersenyum
padaku.
Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak
……………….
Aku terbangun dari tidurku. Untung
hanya mimpi. Sebuah mimpi buruk yang tak ku inginkan sampai kapanpun. Meskipun
aku dan Gio hanya berteman biasa tapi aku menyimpan perasaan suka padanya.
Berteman yang tak pernah bertemu, meskipun satu angkatan aku ngefans sama dia
dari awal aku bertemu dan tnggal diasrama ini. Aku melihat tingkah lakunya yang
rajin, ganteng, dan sifat juteknya yang aku suka. Awalnya aku hanya diam-diam
suka padanya tanpa seorangpun tahu. Memang aku tak terlalu akrab dengannya. Aku
juga tak tahu tentang dirinya.
“ Liatin siapa si Nad ? ko
senyum-senyum sendiri liat ke asrama cowok ? “ Vita mengagetkanku yang sedang
melamun melihat asrama cowok.
“ Engga papa ko cuma lihat-lihat
ajah bangunannya bagus hehe” ujarku sambil tersenyum.
“ ah sudahlah jangan bohong gitu.
Kelihatan tuh dari matanya. Siapa-siapa sih siapa ? “ Vita menengok lewat
jendela.
“
nanti aku ceritakan deh, udah sekarang cepetan gih jemur bajunya, malu
disini banyak cowok” aku pun menjewer telinga Vita.
Aku melihatnya sedang tiduran sambil
melihat buku. Subhanallah rajin sekali anak itu. Aku ingin sekali dekat
dengannya. Lalu aku ceritakan semuanya pada Vita. Vita terkejut dan tertawa
mendengar aku suka pada Gio.
“ Gio emang banyak yang suka ko Nad.
Tapi aku gasuka dia. Jadi buat kamu ajah. Aku bakal bantuin kamu buat dekat
sama dia. “ ujar Vita sambil memegang pundakku.
Hari ini adalah malam jum’at.
Seperti biasanya di asramaku selalu mengadakan marhabanan. Di akhir acara, Vita
menulis di secarik kertas bertuliskan “ Nadia Love Gio “ lalu dilemparkan ke
tempat anak cowok. Akupun tak membolehkan Vita untuk melempar kertasnya, tapi
sudah terlanjur semuanya. Semua orang pun akhirnya tahu dan berkata “Cie cie”.
Semenjak
kejadian itupun aku malu untuk bertemu dia lagi. Akhirnya aku pilih untuk
menjauh darinya. Hari ini ada lomba membaca puisi di sekolahku dalam rangka
bulan bahasa. Akupun mengikuti lomba membaca puisi mewakili kelasku. Saat
dikelas, aku melihat perwakilah kelas sebelahku sangat bagus dalam membacakan
puisi. Tiba-tiba aku sangat minder dan sangat down untuk mengikuti lomba itu. Akupun mencoba untuk menenangkan hatiku ini
dengan membuka facebook. Saat aku lihat pemberitahuan, Gio like foto profil aku
di facebook. Spontan aku berjingkrak-jingkrak kegirangan dan tumbuh rasa
semangatku kembali. Semua teman-temanku bingung melihat tingkah lakuku yang
aneh dan bertanya-tanya. Tapi hanya ku
jawab dengan kalimat “ Gapapa, cuma seneng ajah mau baca puisi “. Akupun
sengaja menutupi kesenanganku.
Hari berganti
hari akupun berani mengirimi dia pesan dan akhirnya mulai tahu nomor kontak dia
lewat temanku. Awalnya aku tak mau tapi temanku yang mengawalinya beberapa sms.
Akhirnya sms dengan dia pun berlanjut.
Hari ini aku
akan mengambil tugas wawancaraku untuk laporan berita majalah di kotaku. Tapi
kali ini aku belum mendapatkan foto orang yang aku wawancarai itu, dan dia
berjanji akan memberinya pulang sekolah nanti. tapi ternyata dia sudah pulang
ke rumahnya. Akupun bingung. Hari ini harus ku bawa foto itu untuk ku setorkan.
Tak mungkin aku datangi rumah seorang cowok, yang ada malah nanti aku malu +
dimarahi ketua asramaku.
“ eh Hab tolong
aku dong, tolong mintain foto hasil wawancara itu ke Raffi yang rumahnya deket
masjid itu, tolong ya please “ akupun memelas pada adik ketua asramau itu.
“ Giooooooo,
minta tolong nih si Nadia katanya ambilin foto ke rumah Raffi “ ujar Syihab
berteriak dan itu mengejutkanku.
Aku tak menyangka ternyata Gio
menghampiri kami dan diapun mau membantuku, padahal aku tak mau mengganggunya.
Diapun pergi meninggalkanku, akupun segera menyusul keluar dan menunggunya
menggambil fotonya. Akupupn tersipu malu sambil tersenyum melihatnya dari belakang.
Dia baik sekali padaku.
“ Nad, si Raffinya lagi di warung,
ayo ikut aja aku anterin.” Ujarnya sambil tersenyum padaku.
Akupun mengangguk tanda mengiyakan sambil
tersenyum dan mengikutinya menuju warung disebelah madrasah. Diapun menunjukkan
orang yang aku maksud. Lalu diapun pergi meninggalkanku dan tersenyum padaku.
Sungguh baik orang itu Ya Allah. Akupun mengucapkan terima kasih lewat sms. Dan
akhirnya akupun menuju majalah tempatku akan mengirimkan berita.
Bulan berganti bulan akupun semakin
dekat dengan dia tapi hanya sebatas teman. Terkadang aku merasa percaya diri
bahwa dia suka padaku tapi tak berani mengungkapkan perasaannya padaku. Sampai
suatu ketika pagi itu aku sedang menyetrika baju yang akan ku pakai ke sekolah.
Tiba-tiba Dhifa adik kelasku datang menghampiri dan membuka pintu dengan wajah
yang sangat bingung.
“ Teh Nadia, apa benar Gio pacaran
sama Bibah ? “ ujarnya sambil membisik di telingaku.
Aku terkejut. Spontan aku diam dam
menatap wajah Dhifa dengan penuh tak percaya. Apa iya Gio pacaran sama Bibah ?
ah aku tak mengerti tega sekali Bibah berpacaran setelah putus dengan teman
dekat Gio. Apalagi saat kulihat wajah Dhifa aku pun teringat bahwa Bibah juga
telah menghancurkan hubungan dhifa karena dia merebut pacar Dhifa dan membuat
masalah dengan sahabatnya sendiri yaitu Dhifa. Dan sekarang Bibah malah pacaran
sama Gio, bahkan dia tahu bahwa aku suka sama Gio.
“ Teh Nadia.. Teh .. Teh .. ko
melamun ? teteh sedih ya aku ngomong seperti ini ? “ ucap Dhifa mengagetkanku.
“ Ada apa sih dhifa ? mainnya bisik
bisikan nih sampe buat Nadia kaget begitu. Ada apa sih ? “ ujar Vita.
Dhifapun bercerita kepada semua
ankan di kamar aku. Sedangkan aku melanjutkan menyetrika dan tanpa mereka
ketahui saat aku menyetrika baju aku meneteskan air mata. Harapanku pun
semuanya hancur. Orang baik seperti dia yang aku suka tak ku sangka akan begini
jadinya.
“ Nadia, sabar ya Gio emang ga
pantes buat kamu. Kamu pasti bisa dapetin yang lebih sangat amat baik dari Gio
oke “ Vita memegang pundakku.
Akupun hanya mengangguk dan
tersenyum kepada Vita. Aku juga sadar bahwa aku bukan siapa-siapa dia. Aku juga
hanya teman dia. Dan seorang teman harus senang jikalau temannya senang.
Meskipun aku suka padanya, tapi inilah akibat dan resiko orang suka diam-diam
dan tak berani mengungkapkannya. Mulai sekarang akupun mulai menjauhi Gio dan
berusaha untuk melupakan Gio. Mungkin sangat susah untuk melupakan Gio karena
dia satu asrama denganku. Tapi aku tahu diri bahwa orang sejelek aku dan aku
yang tak sempurna ini tak pantas dengan Gio. Hanya Bibah yang pantas dengan
Gio. Andai kamu tahu Gio, ternyata mimpi aku selama ini merupakan pertanda
kalau aku tak pantas untuk Gio. Dan aku lebih baik seperti ini didepanmu dan
Bibah ku senang, tapi kau tak tahu di dalam hatiku menangis. Aku akan mencoba
untuk melupakanmu, Gio.
THE END
True story inspiration by some one
Selasa, 13 Agustus 2013
Sepeninggal ayah (Cerpen)
SEPENINGGAL AYAH . . .
Perempuan
itu duduk dengan menggendong anaknya seraya menyuapinya makan. Aku berfikir
sejenak dibawah pohon rindang, menengok di sekelilingku desa yang indah nan
sejuk membuat otakku benar-benar segar. Alangkah besar nikmat yang Kau berikan
padaku ini Ya Allah. Sungguh indah pemandangan perkebunan teh membentang
sekitar 500 m dari rumahku. Tak lama terlihat adikku berlarian bersama
teman-temannya bermain di perkebunan teh itu. Wajah ceria nan gembira terpancar
dari wajah mereka. Tapi tak lama kemudian ibuku datang menghampiriku.
“ Nak,
lihat adikmu tampak ceria bermain dengan teman-temannya. Ibu tak ingin
melihatmu dan adikmu sedih. Ibu juga akan sangat sedih jika ibu harus pergi
secepat ini.” Ku dengar ibu menangis tersedu-sedu. “Tapi meskipun ibu akan
tiada, ibu memberikan kepercayaan padamu untuk menjaga adikmu nak, ibu pergi
demi sekolahmu dan sekolah adikmu supaya kalian bisa jadi orang yang sukses”
Ibu tersenyum melihatku sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku hanya
terdiam dan tersenyum melihat ibu. Aku tahu ibu akan bekerja ke luar negeri
untuk menjadi TKW supaya bisa membiayai aku dan adikku sekolah. Seharusnya ini
adalah tugas seorang ayah, tapi ayahku pergi begitu saja saat adikku berumur 1
tahun dan saat itu aku berumur 4 tahun. Aku sangat membenci ayah. Tega sekali
ayah meninggalkan ibu sendirian untuk mengurusi aku dan adikku waktu kita masih
kecil. Tapi aku berniat akan membahagiakan ibu dengan menunjukkan prestasi yang
aku raih di sekolah.
Kemudian
ibu pergi kembali ke rumah untuk memasak. Aku masih terdiam dan merenungi
nasibku sekarang. Suatu hari nanti aku yakin aku bisa membuat ibuku bangga
padaku dan bisa membantu ibu membiayai sekolah adikku serta aku yakin aku bisa
menjadi orang yang sukses. Aku tahu aku adalah anak orang yang tidak mampu.
Tapi aku yakin dengan keinginan yang tinggi semua yang tidak mungkin pun akan
terjadi. Tanp ayahpun, aku bisa.
“ Kak
Rani antar Sari ke pasar yuk, tadi ibu menyuruh Sari untuk membeli sayuran dan
meminta Kak Rani untuk mengantarku” Sari datang menyadarkanku dari lamunanku.
Aku dan
Saripun pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Setiap pagi kami pergi ke pasar
untuk membantu ibu membeli bahan-bahan karedok untuk dijual. Kamipun mendatangi
penjual langganan kami dan membeli beberapa sayuran. Setelah membelinya, aku
dan Sari sengaja tak melewati jalan biasa yang sering dilewat kami saat pulang
dari pasar tapi melewati jalan pintas menyusupi jalan –jalan kecil di sekitar
rumah penduduk. Akhirnya aku dan Saripun sampai ke rumah dan memberikan
belanjaan pada ibu serta membantunya menyiapkan daganngan di warung kecil di
depan rumah kami.
“ Ibu
mungkin seminggu lagi disini setelah itu ibu akan berangkat ke Hongkong, ibu
harap warung ini tak tutup saat ibu pergi.” Ibu menoleh padaku sambil memereskan
sayuran.
“ Apakah
maksud ibu aku tetap harus membuka dan menjual karedok saat ibu pergi ?” ujarku
disusul dengan anggukan ibu sambil tersenyum padaku.
“ Baiklah
bu aku akan membukanya setiap hari, sebenarnya aku tidak rela ibu perg aku
takut majikan ibu nanti galak dan banyak kejadian tragis yang ada di tv tapi
yasudahlah aku akan merelakan ibu pergi. Ini semua gara-gara bapak bu, kalau
bapak ada disini hidup kita tidak akan menderita seperti ini.” Tak aku sadari
air mataku jatuh perlahan dari bola mataku.
Ibu
tersenyum dan mengelus kepalaku sambil menatapku seakan meyakinkanku bahwa kita
tidak hidup menderita tapi hidup bahagia. Akupun membalas senyumannya. Akupun
membuka warungnya dan setelah itu aku izin bermain keluar.
Aku
menemani Sari bermain di halaman di depan rumahku. Aku melihat warungku
ternyata sangat ramai banyak sekali pembeli. Memang karedok ibuku banyak
diminati oleh warga didesa ini. Alhamdulillah uang hasil penjualanpun cukup
untuk kebutuhan sehari-hari tapi tidak cukup untuk membiayai sekolahku dan
adikku. Kasihan ibu membanting tulang sendirian, aku hanya bisa membantu ibu
belanja sayur dan membantu ibu berjualan. Andai ada ayah disini semuanya akan
berbeda dari sekarang meskipun aku membencinya tapi aku sangat merindukannya,
aku rindu kasih sayang ayah. Tak kusadari air mataku bercucuran, aku hanya bisa
berdoa aku bisa bertemu ayah dan tinggal bersama disini.
5 haripun
berlalu, ibuku sangat sibuk hari ini menyiapkan barang-barang yang akan dibawa
untuk ke Hongkong besok pagi. Akupun membantu membereskan baju-baju ibu serta
membereskan rumah. Pagi ini sungguh sangat sibuk. Saripun membantu ibu
memberekan baju dan barang yang akan dibawa. Saat aku menyapu halaman rumah,
tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiriku. Turun seorang laki-laki dengan
memakai baju kantoran dengan sangat rapi. Laki-laki itupun menghampiriku,
terdiam sejenak mengeluarkan air mata lalu memelukku. Aku sangat kebingungan
sebenarnya siapa bapak ini ? Karena mendengar suara mobil, ibu dan adikku
keluar rumah. Sesampainya di pintu …
Braaaaaaaaaaaaak
……
Keranjang
sayuran yang dibawa ibuku terjatuh ke lantai. Aku dan lelaki itupun terkejut
dan melihat ibuku. Ibuku menangis dan kaget melihat sesosok lelaki yang tadi
memelukku. Merekapun saling bertatapan sambil menangis didepan aku dan adikku.
Lalu lelaki itupun menghampiri ibuku.
“ Maafkan
aku Laras, aku sudah meninggalkanmu bertahun-tahun, aku sungguh mencari uang
dan akhirnya aku menjadi seperti ini. Aku masih setia padamu dan sekarang
ikutlah denganku ke rumahku. Kita bisa tinggal disana menjadi keluarga bahagia
bersama Rani dan Sari. Terima kasih untuk menjaga anak-anakku hingga menjadi
gadis yang cantik seperti ini. Aku sangat rindu padamu Laras” ujar Lelaki itu sambil
memegang tangan ibuku lalu memeluknya dengan erat.
Aku
terdiam melihat mereka. Apakah dia ayahku ? apakah dia yang sudah
meninggalkanku dan ibuku selama ini hidup sendiri menderita tanpa ada kabar
sedikitpun ?
“ Apakah
kau Rani ? kau sudah sangat cantik nak. Aku ayahmu. Ayah sangat meridukanmu
nak.” Lelaki itu melihatku dengan penuh senyuman.
“ Kau
ayahku ? ayah yang selama ini meninggalkanku, adikku, dan ibuku hidup sendiri
menderita seperti ini ? Ayah yang selama ini pergi bertahun-tahun tanpa ada
kabar sedikitpun ? asal ayah tahu, ayah sudah buat hidup kami menderita.
Kasihan ibu mencari uang sendiri, harusnya ini adalah tugas seorang ayah ? Ayah
kemana ? tidak ada ! aku benci ayah !” aku berlari menuju kamarku sambil
menangis.
Saat aku
menangis di dalam kamar tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku, akupun membuka
pintunya meskipun aku masih sangat terpukul dengan kedatangan ayahku.
“ Rani,
kau harus mengerti nak. Kamu sudah dewasa ibu harap kamu bisa memaafkan ayahmu.
Ibu yang sudah ditinggal dengan adanya kalian saja ibu sudah memaafkannya,
apalagi kamu nak sebagai anaknya. Apa kamu tidak merindukan ayahmu ?” ujar ibu
sambil mengelus kepalaku.
“ Rani
rindu sekali sama ayah bu, tapi Rani masih tidak terima ayah datang dengan
tiba-tiba dan sudah bertahun-tahun meninggalkan kita sendiri menderita bu”
“ Maafkan
ayah nak, bagaimanapun juga kalian adalah keluarga ayah meskipun selama
bertahun-tahun ayah meninggalkan kalian, ayah pasti kembali. Ayah hanya ingin
kembali ke rumah dengan tidak membawa bungkusan kosong tapi sudah mencapai
kesuksesan baru ayah akan kembali kesini. Itu janji ayah dulu nak. Maafkan ayah
ya” tiba-tiba ayah datang menggendong Sari dan langsung menghampiriku dan ibu.
Akupun
memeluk ayah dengan erat. Aku tahu sekarang dia adalah ayah yang baik bukan
seorang ayah yang tega meninggalkan keluarganya dengan tanpa sebab. Ingin ku
kakatakan padanya bahwa Aku Rindu Ayah
sekalipun ayah sudah lama pergi meninggalkan kami, Aku tetap Cinta dan Sayang
Ayah. Ayahpun sekarang tidak meninggalkan aku dan ibuku lagi. Kini aku,
adikku, dan ibuku sudah tinggal di rumah ayah yang sangat besar. Ibuku tidak
jadi pergi ke luar negeri. Aku sangat bahagia tnggal bersama keluargaku yang
sudah lengkap. Kini hidupku dan keluarga bahagia selamanya.
THE END
Cerpenku
Hello kawan-kawan ini postingan pertamaku, aku akan memberikan kalian sebuah cerpen pengalamanku sedikit lucu dan lumayan menyebalkan haha. aku berharap kalian dapat mengambil kesimpulan serta amanat yang ada disini ya kawan. terus kunjungi blogku :)
SALAH
RABA
Langit
cerah nuansa pagi cahaya matahari menyinari dunia. Suara kokok ayam di rumah
nan merdu menandakan sang pagi datang ke dunia. Seakan membangunkan Pui untuk
bangun dari tidurnya. Jendela kamarnyapun dibuka olehnya. Udara sejuk nan
indahnya panorama pagi membuat hati Pui tenang. Anak-anak berlarian dan bermain
dengan raut wajah yang berseri-seri karena hari libur telah tiba. Tetapi tidak
bagi Pui, dia harus kembali ke asrama tempat dia menuntut ilmu.
Pagi
ini Pui sangat sedih. Bukan karena dia tidak mau pergi ke asrama tetapi sang
bunda yang tidak bisa mengantarkannya ke asrama dikarenakan ada meeting
mendadak di kantornya. Dengan hati yang kecewa dan terpaksa, diapun akhirnya
mau ke asrama bersama ayah. Berhiaskan pakaian hijau dengan rok hitam dan
jilbab hijau disertai dengan raut wajah yang sedih akhirnya Puipun pergi ke
asrama dengan hati yang sangat kecewa kepada bundanya.
Perjalanan
jauh Bandung-Yogyakarta menempuh waktu 7 jampun tak terasa. Puipun sudah tiba
di asrama SMAN 11 Yogyakarta. Dengan dibantu ayah membawa barang-barangnya ke
kamar, Puipun masih memasang raut wajah sedih dengan tidak adanya bunda
disampingnya sekarang. Hanya beberapa menit saja, ayah langsung berpamitan
pulang karena dia harus berangkat ke kantor besok. Dengan hati terpaksa Puipun
membolehkan sang ayah untuk kembali ke rumah.
Setelah
ayahnya pergi Pui langsung berlari ke kamarnya dan menangis.
“
Pui, kenapa kamu menangis ? apakah kamu tidak merelakan ayahmu pergi ?”
tiba-tiba Yumi datang dan langsung menghampiri Pui.
“
Ah tidak, aku tidak apa-apa ko Yumi cantik, mungkin kecapean doang wlee” Pui
menghapus air matanya sambil menjulurkan lidahnya pada Yumi.
“
Ah masa ? boong banget, tuh liat mukanya ajah berubah 180 derajat mirip Patrick
hahaha “ canda Yumi sambil berlarian dan disusul oleh Pui dengan membawa
bantal.
Hari
ini adalah hari pertama Pui kembali ke sekolah. Hari yang sangat indah, dia
bertemu sahabat karibnya Isfa, Nia, Ani, dan Uti. Mereka adalah sahabat Pui
dari SMP dan sekarang bisa bersekolah bersama kembali di SMAN 11 Yogyakarta.
“
Hai Pui, sudah lama yah kita tidak ketemu, kangen Pui “ teriak Isfa sambil
berlari memeluk Pui.
“
Hai teman-teman senang bisa bertemu kalian lagi disini, aku juga kangen kalian,
meskipun sudah berkomunikasi lewat hape, tetep ajah pengen ketemu kalian
banget” Ujar Pui sambil mencubit pipi teman-temannya satu-satu.
“
Kita juga kangen kamu, kangen sifat kamu yang cerewet, kangen suara Isfa yang
menggetarkan jiwa banyak orang untuk menutup telinga, kangen Nia yang selalu
baca buku, dan kangen Uti yang tiap jam
tiap menit tiap detik pegang hape mulu, kangen kalian semua” Ucap Nia sambil
memeluk semua sahabat karibnya sambil menangis. Mereka semua berpelukan dan
tertawa bersama.
Hari
ini pelajaran Bahasa Inggris. Pui sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris tapi
dia tidak menyukai guru yang mengajarnya karena agak tidak jelas dalam
mengajar. Tapi semangat belajar terhadap pelajaran yang dia suka tetap ada
apalagi ditambah bahwa pacarnya sekelas dengan dia.
“
Hari ini kita belajar di luar lingkungan sekolah. Bawa buku serta alat
tulisnya. Jangan lupa bawa kue ya nanti Mr minta” ujar Mr Ucu dengan polosnya.
“
Kita mau belajar dimana Mr ? kan sebelumnya kita belum pernah keluar asrama
kecuali mau beli makan. Kalo dimarahin gimana ? kalo nyasar gimana? Kalo capek
gimana ? Kalo kakinya sakit gimana ? kalooo….. “ ujar Isfa dengan lantangnya
sehingga membuat siswa lainnya menutup telinganya.
“
Isfaaaaaaaaaa, diem suara kamu tuh kaya backsound, bikin telinga aku sakit nih“
ujar Uti dengan sambil memamerkan bibir manyunnya.
“
Iyah Isfa benar tuh kata Uti. Kalo dimarahin ya Mr yang tanggung jawab, kalo
nyasar juga yang dimarahin dan yang tanggung jawab Mr Ucu, kalo capek juga
suruh mijitin Mr Ucu, kalo kakinya sakit juga potong ajah kakinya Mr Ucu buat
gantiin kaki kamu hahahaha “ ujar Ani dengan disusul tawa anak-anak kelas X 1.
“
enak ajah tanggung jawab sendiri pokoknya, Mr ga urusin. Sekarang ayo siap-siap
kita berangkat menuju lapangan depan Kantor PMI” ujar Mr Ucu sambil memakai
topi ala tentara penjajah zaman dahulu dan bersiap-siap pergi.
Selama
perjalanan Pui dan teman-teman berdiskusi tentang tempat wisata yang ada di
daerah sini karena mereka merupakan siswa baru di SMAN 11 Yogyakarta dan belum
tahu tentang daerah sekitar. Tiba-tiba Mr Ucu langsung ikut berdiskusi dengan
mereka. Mr Ucu mengatakan bahwa ada sebuah taman bunga yang sangat indah di
belakang rumah sakit yang tak jauh dari asrama. Pui langsung tertarik utuk
pergi kesana saat hari libur bersama teman-temannya karena Pui sangat suka
pergi ke taman bunga waktu dia berada di rumah, semenjak dia mendengar cerita
Mr Ucu dia jadi semangat dan ingin segera mengunjungi taman tersebut.
Beberapa
hari berlalu, hari ini adalah hari minggu. Pui berniat pergi bersama
teman-temannyake taman bunga yang diceritakan Mr Ucu. Tapi sayang, Pui sangat
sedih karena Isfa dan Ani tak bisa ikut karena dia mempunyai acara sendiri.
Jadi dia hanya pergi bersama Uti, Nia dan Yumi. Pui juga mangajak kekasihnya
Sau pergi ke taman bunga itu. Perjalananpun dimulai pukul 8 pagi dengan
menggoes sepeda masing-masing Pui berangkat bersama teman-temannya. Tempat
pertama yang mereka kunjungi adalah Masjid Al-Hidayah, masjid tersebut terkenal
sangat indah dan mempunyai taman yang luas serta pemandangan yang indah.
Setelah beberapa jam di masjid Al-hidayah, mereka melanjutkan perjalanan menuju
taman bunga. Setelah mereka sudah sampai dibelakang rumah sakit mereka tidak
menemukan adanya taman bunga yang sudah diceritakan Mr Ucu. Akhirnya merekapun
bertanya pada salah satu penduduk sekitar.
“
Semenjak ibu tinggal disini ibu tidak tahu ada taman bunga disini, tapi mungkin
dibelakang rumah sakit itu ada jalan kecil coba belok ke arah kanan saja, maaf
ibu sering kali lupa maklum ya de ibu udah tua hehe” ujar ibu yang sedang
menggendong anak kecil tersebut.
Akhirnya
merekapun pergi ke taman bunga yang ditunjukkan ibu itu. Setelah masuk ke gang,
Pui Nampak curiga karena warga sekitar yang tinggal digang tersebut melihat
mereka sambil tertawa. Setelah beberapa menit kemudian, ternyata tak ada taman
bunga dibelakang rumah sakit itu, tapi sebuah kuburan berhiaskan tanaman bunga
kamboja berwarna warni. Melihat itu semua mereka semua kesal kepada Mr Ucu
karena merasa telah di bohongi. Tetapi pada akhirnya mereka tertawa bersama dan
kembali ke asrama dengan perasaan kecewa.
Keesokan
harinya, Pui dan teman-temannya menemui Mr Ucu dengan raut wajah yang kesal dan
penuh amarah. Untungnya di kantor guru saat itu masih sepi, sehingga Pui dan
teman-temannya berani masuk ke kantor.
“
Mr Ucu boong “ Uti langsung berbicara di depan Mr Ucu dengan raut muka ditekuk
disertai bibir manyunnya.
“
iyah Mr Ucu hanya omong kosong belaka, kata Pak Muhid dan di dalam buka Akidah
Akhlak hal. 50 berbohong itu dosa. Dosa loh Mr Ucu tuh udah bohongin kita semua
“ Ina langsung menyambung pembicaraan Uti dan Mr Ucu dengan memasang raut wajah
memelasnya.
“
Bohong ? maksud kalian semua apa ? Mr Ucu bohong apa pada kalian semua ? “ ujar
Mr Ucu sambil tersenyum.
Kemudian
Pui menceritakan semua pengalaman kemarin bersama teman-temannya kepada Mr Ucu
bahwa mereka telah merasa dibohongi oleh Mr Ucu tentang taman bunga yang beliau
katakana 2 hari yang lalu. Setelah mendengar cerita mereka semua, Mr Ucu
tertawa terbahak-bahak sehingga membuat mereka kebingungan.
“
Kalian semua tuh salah raba dimana taman bunga itu berada “ ujar Mr Ucu sambil
meminum tehnya.
“
Salah raba ? maksudnya apa Mr ? aku baru denger kata “ Salah Raba” sekarang “
ujar Uti sambil melongo dengan WATADOSnya sambil twitteran.
“
Salah raba itu dalam Kamus Bahasa Indonesia sama saja dengan salah menduga atau
salah kelir “ Ani menjelaskan pada Uti dengan bergaya ala seorang guru.
Mr
Ucu menjelaskan bahwa letak taman bunga itu bukan di tempat yang mereka
datangi, tetapi letaknya masih jauh dari tempat yang mereka duga. Pui dan
teman-temannya merasa bersalah telah menuduh Mr Ucu sebagai pembohong dan
akhirnya merekapun meminta maaf kepada Mr Ucu dan merekapun tertawa bersama.
TAMAT
Langganan:
Komentar (Atom)
