TAHU DIRI
Ku lihat dia menatapku. Entah hanya
perasaanku saja atau nyata terjadi. Aku tersipu malu, senang sekali dilihat
olehnya. Akupun tetap duduk tenang sendiri di taman yang indah. Entah apa yang
terjadi tak ada orang lewat hanya aku dan dia di tempat duduk seberang sana.
Tiba-tiba dia menghampiriku dan duduk disampingku sambil tersenyum. Tak satupun
kata yang keluar dari mulutnya. Aku bingung dibuatnya. Tiba-tiba sesosok wanita
yang tak terlihat wajahnya menjemputnya dan pergi meninggalkanku.
“ Kau mau kemana ? tega nian kau
meninggalkanku sendiri disini. Aku suka kamu Gio …” ujarku sambil menarik
tangannya.
“ Maafkan aku Nad, aku harus pergi
bersama dia” Gio melepaskan tanganku dan mendorongku ke tanah sambil tersenyum
padaku.
Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak
……………….
Aku terbangun dari tidurku. Untung
hanya mimpi. Sebuah mimpi buruk yang tak ku inginkan sampai kapanpun. Meskipun
aku dan Gio hanya berteman biasa tapi aku menyimpan perasaan suka padanya.
Berteman yang tak pernah bertemu, meskipun satu angkatan aku ngefans sama dia
dari awal aku bertemu dan tnggal diasrama ini. Aku melihat tingkah lakunya yang
rajin, ganteng, dan sifat juteknya yang aku suka. Awalnya aku hanya diam-diam
suka padanya tanpa seorangpun tahu. Memang aku tak terlalu akrab dengannya. Aku
juga tak tahu tentang dirinya.
“ Liatin siapa si Nad ? ko
senyum-senyum sendiri liat ke asrama cowok ? “ Vita mengagetkanku yang sedang
melamun melihat asrama cowok.
“ Engga papa ko cuma lihat-lihat
ajah bangunannya bagus hehe” ujarku sambil tersenyum.
“ ah sudahlah jangan bohong gitu.
Kelihatan tuh dari matanya. Siapa-siapa sih siapa ? “ Vita menengok lewat
jendela.
“
nanti aku ceritakan deh, udah sekarang cepetan gih jemur bajunya, malu
disini banyak cowok” aku pun menjewer telinga Vita.
Aku melihatnya sedang tiduran sambil
melihat buku. Subhanallah rajin sekali anak itu. Aku ingin sekali dekat
dengannya. Lalu aku ceritakan semuanya pada Vita. Vita terkejut dan tertawa
mendengar aku suka pada Gio.
“ Gio emang banyak yang suka ko Nad.
Tapi aku gasuka dia. Jadi buat kamu ajah. Aku bakal bantuin kamu buat dekat
sama dia. “ ujar Vita sambil memegang pundakku.
Hari ini adalah malam jum’at.
Seperti biasanya di asramaku selalu mengadakan marhabanan. Di akhir acara, Vita
menulis di secarik kertas bertuliskan “ Nadia Love Gio “ lalu dilemparkan ke
tempat anak cowok. Akupun tak membolehkan Vita untuk melempar kertasnya, tapi
sudah terlanjur semuanya. Semua orang pun akhirnya tahu dan berkata “Cie cie”.
Semenjak
kejadian itupun aku malu untuk bertemu dia lagi. Akhirnya aku pilih untuk
menjauh darinya. Hari ini ada lomba membaca puisi di sekolahku dalam rangka
bulan bahasa. Akupun mengikuti lomba membaca puisi mewakili kelasku. Saat
dikelas, aku melihat perwakilah kelas sebelahku sangat bagus dalam membacakan
puisi. Tiba-tiba aku sangat minder dan sangat down untuk mengikuti lomba itu. Akupun mencoba untuk menenangkan hatiku ini
dengan membuka facebook. Saat aku lihat pemberitahuan, Gio like foto profil aku
di facebook. Spontan aku berjingkrak-jingkrak kegirangan dan tumbuh rasa
semangatku kembali. Semua teman-temanku bingung melihat tingkah lakuku yang
aneh dan bertanya-tanya. Tapi hanya ku
jawab dengan kalimat “ Gapapa, cuma seneng ajah mau baca puisi “. Akupun
sengaja menutupi kesenanganku.
Hari berganti
hari akupun berani mengirimi dia pesan dan akhirnya mulai tahu nomor kontak dia
lewat temanku. Awalnya aku tak mau tapi temanku yang mengawalinya beberapa sms.
Akhirnya sms dengan dia pun berlanjut.
Hari ini aku
akan mengambil tugas wawancaraku untuk laporan berita majalah di kotaku. Tapi
kali ini aku belum mendapatkan foto orang yang aku wawancarai itu, dan dia
berjanji akan memberinya pulang sekolah nanti. tapi ternyata dia sudah pulang
ke rumahnya. Akupun bingung. Hari ini harus ku bawa foto itu untuk ku setorkan.
Tak mungkin aku datangi rumah seorang cowok, yang ada malah nanti aku malu +
dimarahi ketua asramaku.
“ eh Hab tolong
aku dong, tolong mintain foto hasil wawancara itu ke Raffi yang rumahnya deket
masjid itu, tolong ya please “ akupun memelas pada adik ketua asramau itu.
“ Giooooooo,
minta tolong nih si Nadia katanya ambilin foto ke rumah Raffi “ ujar Syihab
berteriak dan itu mengejutkanku.
Aku tak menyangka ternyata Gio
menghampiri kami dan diapun mau membantuku, padahal aku tak mau mengganggunya.
Diapun pergi meninggalkanku, akupun segera menyusul keluar dan menunggunya
menggambil fotonya. Akupupn tersipu malu sambil tersenyum melihatnya dari belakang.
Dia baik sekali padaku.
“ Nad, si Raffinya lagi di warung,
ayo ikut aja aku anterin.” Ujarnya sambil tersenyum padaku.
Akupun mengangguk tanda mengiyakan sambil
tersenyum dan mengikutinya menuju warung disebelah madrasah. Diapun menunjukkan
orang yang aku maksud. Lalu diapun pergi meninggalkanku dan tersenyum padaku.
Sungguh baik orang itu Ya Allah. Akupun mengucapkan terima kasih lewat sms. Dan
akhirnya akupun menuju majalah tempatku akan mengirimkan berita.
Bulan berganti bulan akupun semakin
dekat dengan dia tapi hanya sebatas teman. Terkadang aku merasa percaya diri
bahwa dia suka padaku tapi tak berani mengungkapkan perasaannya padaku. Sampai
suatu ketika pagi itu aku sedang menyetrika baju yang akan ku pakai ke sekolah.
Tiba-tiba Dhifa adik kelasku datang menghampiri dan membuka pintu dengan wajah
yang sangat bingung.
“ Teh Nadia, apa benar Gio pacaran
sama Bibah ? “ ujarnya sambil membisik di telingaku.
Aku terkejut. Spontan aku diam dam
menatap wajah Dhifa dengan penuh tak percaya. Apa iya Gio pacaran sama Bibah ?
ah aku tak mengerti tega sekali Bibah berpacaran setelah putus dengan teman
dekat Gio. Apalagi saat kulihat wajah Dhifa aku pun teringat bahwa Bibah juga
telah menghancurkan hubungan dhifa karena dia merebut pacar Dhifa dan membuat
masalah dengan sahabatnya sendiri yaitu Dhifa. Dan sekarang Bibah malah pacaran
sama Gio, bahkan dia tahu bahwa aku suka sama Gio.
“ Teh Nadia.. Teh .. Teh .. ko
melamun ? teteh sedih ya aku ngomong seperti ini ? “ ucap Dhifa mengagetkanku.
“ Ada apa sih dhifa ? mainnya bisik
bisikan nih sampe buat Nadia kaget begitu. Ada apa sih ? “ ujar Vita.
Dhifapun bercerita kepada semua
ankan di kamar aku. Sedangkan aku melanjutkan menyetrika dan tanpa mereka
ketahui saat aku menyetrika baju aku meneteskan air mata. Harapanku pun
semuanya hancur. Orang baik seperti dia yang aku suka tak ku sangka akan begini
jadinya.
“ Nadia, sabar ya Gio emang ga
pantes buat kamu. Kamu pasti bisa dapetin yang lebih sangat amat baik dari Gio
oke “ Vita memegang pundakku.
Akupun hanya mengangguk dan
tersenyum kepada Vita. Aku juga sadar bahwa aku bukan siapa-siapa dia. Aku juga
hanya teman dia. Dan seorang teman harus senang jikalau temannya senang.
Meskipun aku suka padanya, tapi inilah akibat dan resiko orang suka diam-diam
dan tak berani mengungkapkannya. Mulai sekarang akupun mulai menjauhi Gio dan
berusaha untuk melupakan Gio. Mungkin sangat susah untuk melupakan Gio karena
dia satu asrama denganku. Tapi aku tahu diri bahwa orang sejelek aku dan aku
yang tak sempurna ini tak pantas dengan Gio. Hanya Bibah yang pantas dengan
Gio. Andai kamu tahu Gio, ternyata mimpi aku selama ini merupakan pertanda
kalau aku tak pantas untuk Gio. Dan aku lebih baik seperti ini didepanmu dan
Bibah ku senang, tapi kau tak tahu di dalam hatiku menangis. Aku akan mencoba
untuk melupakanmu, Gio.
THE END
True story inspiration by some one